Ketika Inggris Harus takluk pada kerajaan Sambas (1812) - ibnul abdi salam Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketika Inggris Harus takluk pada kerajaan Sambas (1812)

 Pada Bulan Oktober 1812, Pasukan Kesultanan Sambas dibawah pyimpinan Pangeran Anom berhasil mengalahkan serangan pasukan Kerajaan Inggris (pasukan Thomas Stamford Raffles) dibawah pimpinan Kapten J. Bowen, R.N., dalam pertempuran hebat di wilayah Sebatu' (wilayah Tebas). 

Ilustrasi gambar

Sejarawan terkenal Inggris yaitu Sir Graham Irwin. Ph.D. dalam bukunya yang berjudul "Nineteenth-Century Borneo" terbitan tahun 1967, sempat merekam peristiwa heroik ini dalam bukunya itu dengan kalimat : "Ketika Kapten J. Bowen menyadari bahwa pasukannya tidak mampu melawan Pasukan Sambas, maka Kapten J. Bowen dan pasukannya terpaksa melakukan pengunduran dengan amat memalukan dimana dampak dari kekalahan pasukan Inggris itu telah menjatuhkan marwah Inggris di Borneo yang tidak dapat digambarkan".


Sekilas Sejarah PANGERAN ANOM (Panglime dan Pahlawan Besar Kesultanan Sambas) :


Pangeran Anom nama kecilnya adalah Raden Pasu dan memang adalah Sultan Sambas ke-8 dengan gelar Sultan Muhammad Ali Shafiuddin I, baginda adalah anak dari Sultan Sambas yang ke-5 yaitu Raden Jama' bergelar Sultan Umar Aqamaddin II (1762 - 1802).



Pada masa pemerintahan Ayahandanya itu Pangeran Anom terkenal sebagai Panglima Besar Kesultanan Sambas karena berhasil mematahkan serangan ketiga Kesultanan Siak Sri Indrapura bersama Kesultanan Pontianak terhadap Kesultanan Sambas pada tahun 1795 dan berhasil mematahkan pemberontakan besar Kongsi tambang emas Cina di Montraduk pada tahun 1797.


Ketika Sultan Umar Aqamaddin II (Raden Jama', Ayahanda Pangeran Anom) itu wafat pada tahun 1802, maka yang menggantikan baginda adalah anak baginda yaitu Raden Mantri yang bergelar Sultan Abubakar Tajuddin I (1802 - 1815). Pada masa pemerintahan Abang Pangeran Anom yaitu Raden Mantri bergelar Sultan Abubakar Tajuddin I (Sultan Sambas ke-7) itu Pangeran Anom diangkat sebagai Pangeran Bendahara mendampingi Baginda sebagai Wazir.


Dari semenjak pemerintahan Ayahandanya yaitu Sultan Umar Aqamaddin II (Raden Jama') hingga kepada pemerintahan Abangnya yaitu Sultan Abubakar Tajuddin I (Raden Mantri) ini, Kesultanan Sambas merupakan Kesultanan yang kaya disamping karena aktifitas perdagangan juga terutama karena ditopang oleh pendapatan bagi hasil dari tambang-tambang emas yang dikerjakan oleh Kongsi2 tambang Cina diwilayah Kesultanan Sambas yang sangat melimpah hasilnya dimana kekayaan emas Kesultanan Sambas masa itu tersiar ke seantero rantau bahkan hingga ke wilayah Sulu.


Pada masa pemerintahan Sultan Abubakar Tajuddin II ini (tahun 1805) dibentuklah armada laut Kesultanan Sambas untuk melawan kearoganan British / Inggris yang mencerobohi wilayah kedaulatan perairan Kesultanan Sambas pada masa itu (dengan melakukan aktifitas dagang tanpa melalui pelabuhan induk Kesultanan Sambas di Sambas tetapi Inggris / British langsung ke pelabuhan2 Kongsi Cina di Selakau dan Sedau yang adalah wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas saat itu). Inilah sebab awal timbulnya perseteruan Kesultanan Sambas dengan British / Inggris yang menyebabkan pecahnya pertempuran Kesultanan Sambas dan Kerajaan Inggris pada tahun 1812 dan tahun 1813. Sebagai pimpinan armada laut Kesultanan Sambas itu ditunjuklah Pangeran Anom sebagai Pimpinannya sehingga disamping sebagai Pangeran Bendahara (Wazir 1 Kesultanan), Pangeran Anom saat itu juga menjabat sebagai Panglima Besar Kesultanan Sambas (Panglima Angkatan Darat dan Panglima Angkatan Laut).


Ketika Sultan Sambas saat itu (Abang Pangeran Anom) yaitu Sultan Abubakar Tajuddin I (Raden Mantri) wafat pada tahun 1815, baginda mempunyai satu orang anak laki2 bernama Raden Atung (Putra Mahkota) namun ia saat itu masih anak2 (sekitar 8 tahun) sehingga berdasarkan tradisi Kesultanan Sambas, apabila Putra Mahkota masih belum cukup umur maka yang diangkat menjadi Sultan adalah Pangeran Bendahare (Wazir 1) sambil menunggu Putra Mahkota cukup umur. Maka kemudian diangkatlah Pangeran Anom (Pangran Bendahare) sebagai Sultan Sambas ke-8 dengan gelar Sultan Muhammad Ali Shafiuddin I.


Ketika Raden Atung sudah cukup umur (berusia sekitar 16 tahun) oleh Sultan Muhammad Ali Shafiuddin I (Pangeran Anom) maka diangkatlah ia dalam kedudukan akan segera diangkat menjadi Sultan Sambas selanjutnya dengan gelar Sultan Muda (belum menjadi Sultan) yaitu pada tahun 1823, namun beberapa bulan kemudian tanpa disangka Raden Atung (Sultan Muda) wafat.


Dengan wafatnya Raden Atung maka berdasarkan kesepakatan Kerabat utama majeliis Kesultanan Sambas ditetapkanlah Sultan Muhammad Ali Shafiuddin I (Pangeran Anom) sebagai Sultan tetap (Sultan Pewaris Kesultanan Sambas) sehingga keturunan Baginda yang laki-laki berhak untuk menggantikan baginda sebagai Sultan Sambas selanjutnya.


Maka kemudian pada sekitar tahun 1824 ditetapkanlah anak laki2 Baginda yaitu Raden Ishaq sebagai Putra Mahkota Kesultanan Sambas dengan gelar Pangeran Ratu Nata Kesuma Ishaq. Pangeran Ratu Nata Kesuma (Raden Ishaq, anak Pangeran Anom) ini kemudian menjadi Sultan Sambas ke-11 dengan gelar Sultan Abubakar Tajuddin II (1846 - 1855). Sultan Abubakar Tajuddin II inilah yang kemudian menurunkan Sultan Sambas ke-13 (Sultan Muhammad Shafiuddin II, 1866 - 1922), Sultan Sambas ke-14 (Sultan Muhammad Ali Shafiuddin II, 1922 - 1926) dan Sultan Sambas ke-15 (Sultan Muhammad Ibrahim Shafiuddin, 1931 - 1943).