Budaya dan Identitas Tionghoa Muslim di Kalimantan Barat bagian 1 - ibnul abdi salam Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Budaya dan Identitas Tionghoa Muslim di Kalimantan Barat bagian 1

 Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 11, No. 2, 2013: 281 - 30

pendahuluan 

Tionghoa Muslim diberitakan telah masuk ke Kalimantan Barat sejak abad 15. Menurut Slamet Muljana, pada tahun 1407, di Sambas didirikan Muslim/Hanafi Chinese Community. Tahun 1463 laksamana Cheng Ho, seorang Hui dari Yunan, atas perintah Kaisar Cheng Tsu alias Jung Lo (kaisar keempat dinasti Ming) selama tujuh kali memimpin ekspedisi pelayaran ke Nan Yang (baca: wilayah Asean saat ini).1 Beberapa anak buahnya ada yang kemudian menetap di Kalimantan Barat dan membaur dengan penduduk setempat.



Mereka juga membawa ajaran Islam yang mereka anut. Fenomena ini seiring De Graaf yang menyebutkan bahwa dakwah Islam di Asia tenggara dijalankan melalui tiga metode, yaitu melalui perantara para pedagang Muslim dalam jalur perdagangan secara damai; disebarkan oleh para dai dan orangorang suci yang datang dari India atau arab (termasuk Cina-- peneliti) yang sengaja datang untuk menyebarkan agama dengan kekuasaan.2 Namun rentang waktu yang panjang hingga saat ini abad 21, sekitar 5 abad, ternyata data menunjukkan perkembangan pengaruh Tionghoa Muslim di Kalimantan Barat ini tidak sekuat pengaruh Tionghoa Muslim di Jawa.

 Pangeran Jimbun (Raden Patah) dan para walisongo yang mendirikan kesultanan demak adalah banyak yang menyebutkan merupakan keturunan Tionghoa Muslim di Jawa. Islamisasi Jawa sejak Kerajaan Demak berdiri mengalami sukses yang luar biasa. Sedangkan untuk melihat peran Tionghoa Muslim di Kalimantan Barat, kita kesulitan menemukan jejak-jejak sejarah yang menunjukkkan peran yang besar dari Komunitas Tionghoa Muslim di daerah itu.

Bersambung

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1 Penelitian Residen Poortman menyebutkan bahwa pada tahun 1407 di Sambas telah berdiri masyarakat Tionghoa muslim. Tahun 1423 Haji Gan Eng Cu mengepalai masyarakat Tionghoa Muslim di Nan Yang, termasuk di dalamnya Jawa, Kukang dan Sambas. Lihat Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu–Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, Yogyakarta: LKIS, 2008, h. 61-62. 2 De Graaf, “Islam di Asia tenggara Abad ke-18” dalam Perspektif Islam di Asia Tenggara (Peny. Azyumardi Azra), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989, h. 2

Budaya dan Identitas Tionghoa Muslim di Kalimantan Barat Muhamad Murtadlo Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI tadho25@gmail.com