Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Meluruskan Sejarah II sosok dibalik makam OBOS

Pemangkat - sebagai orang pemangkat kita pasti tau yang namanya makan obos, setiap mendengar nama obos yang terpikirkan oleh kita adalah seorang tentara belanda yang mempunyai ilmu rawa rontek yang dipercayai sulit untuk dibunuh dan kalau pun bisa dibunuh maka bagian tubuhnya harus dipisahkan, begitulah cerita yang berkembang dimasyarakat pemangkat. 



Makam yang terletak bukit penibungan yang lebih dikenal dengan tanjung batu, bertuliskan F Jsorg, Luit Kol Inf. 1850 V. Winsheim adalah makan seorang Frederik Johannes Sorg (lahir di Borculo, Belanda, 10 April 1810 – meninggal di Pontianak, Hindia Belanda (kini Indonesia), 25 Oktober 1850 pada umur 40 tahun) adalah letnan kolonel Belanda yang bertugas di Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Ia adalah ksatria an perwira di Militaire Willems-Orde 

SIAPA FREDERICK JOHANNES SORG?

RIWAYAT PENDIDIKAN 

Sorg dididik di sekolah dasar berasrama dan pada tanggal 20 Maret 1824 menjadi kadet dalam dinas di Divisi Infanteri VII. Setelah naik pangkat menjadi sersan, ia naik pangkat lagi menjadi letnan dua pada tanggal 21 Juli 1828.

KARIR

Semasa Pemberontakan Belgia, Sorg ikut serta dalam operasi perang di tentara gerilya. Pada tanggal 3 September 1831, ia naik pangkat sebagai letnan satu di Divisi Infanteri XII, dan berdinas hingga tahun 1837. Menurut Dekret Kerajaan tanggal 13 Maret 1837 no. 67, ia dipindahkan ke KNIL dan dikirim ke Hindia Belanda menumpangi kapal Prins van Oranje. Setelah 3 bulan 17 hari berlayar, akhirnya ia tiba di Padang. Pada tanggal 28 Januari 1838, ia naik pangkat menjadi kapiten infanteri dan dalam pangkat itu, ia turut serta dalam operasi militer ke Pantai Barat Sumatra. Ia mendapatkan sebutan kehormatan dan menjadi Ksatria kelas IV MWO (Koninklijk Besluit 19 Maret 1841, no. 91). Sorg turut andil dalam kampanye militer meredam kekacauan di Pantai Barat Sumatra dalam 2 bulan pertama tahun 1841 dan disebutkan secara terhormat dalam laporan (dagorder; Keputusan Raja 24 Februari 1842, no. 76).

Kemudian, ia dipindahkan ke Jawa, dan ditempatkan sebagai komandan Fort Oranje (belakangan dinamai Fort Erfprins), Gresik; dari sini, ia dipindahkan ke Ngawi dan kemudian ke Batavia (kini Jakarta). Diangkat sebagai mayor di Batalyon Infanteri VIII kemudian ke Batalyon Infanteri XIII, ia turut dalam ekspedisi militer ke Bali (1849) dan mengalami luka tembak di lengan kiri. Setelah sembuh dari lukanya, Sorg kembali ikut serta dalam ekspedisi berikutnya ke Bali, tetapi ia baru tiba saat musuh kalah, yang pada saat itu panglima tertinggi Andreas Victor Michiels terbunuh. Pada tanggal 27 September 1849, Sorg naik pangkal menjadi letnan kolonel di Batalyon XIII dan dengan Surat Keputusan 11 Desember 1849 no. 44, ia dianugerahi gelar ksatria kelas III MWO atas keberanian dan kegigihannya yang luar biasa.

GUGUR

Dalam setahun pasca-ekspedisi ke Bali, Sorg diperintahkan ikut dalam ekspedisi ke KalBar. Pada tanggal 12 Agustus 1850, kepala staf ekspedisi bersama pasukan dari Divisi I bertolak dengan korvet Boreas dan tiba 8 hari kemudian, lalu meneruskan dengan berjalan kaki ke Pemangkat. Pada tanggal 30 Agustus, pasukan ekspedisi dari Divisi II tiba. Sorg mengerti benar bahwa Pemangkat amat penting bagi pemberontak dan harus mencegah musuh tetap tinggal di sana. Sorg melakukan sejumlah pengintaian bersama pasukannya di Pemangkat, dan mengetahui bahwa musuh berkekuatan sekitar 3.500 orang, di antaranya 700 orang bersenjatakan cantu (alat tembak dari besi) dan lainnya bersenjatakan tombak dan kelewang. Setelah berbaris dalam situasi sulit, pada pagi hari tanggal 11 September, Sorg dan pasukannya menuju kantor residen dan terjadi baku tembak dengan orang Tionghoa. Dalam pada itu, Sorg terkena luka tembak di bawah lutut kanan, sehingga terpaksa mengalihkan komando. Ia dibawa ke kediaman residen di Pontianak, dan dirawat lebih lanjut di sana. Awalnya, ada harapan Sorg selamat tetapi akibat infeksi, kaki Sorg harus diamputasi, yang setelah itu demam traumatik mempercepat proses kematiannya. Atas jasa-jasanya, gubernur jenderal memutuskan bahwa benteng yang berada di Bukit Penibungan itu dinamai Fort Sorg. Di dalam benteng itulah Sorg dimakamkan. Setelah membaca ini kita bisa menyimpulkan bahwa makam yang berada ditanjung batu bukanlah makam Van Den Bosh yang memiliki ajian rawa rontek seperti cerita yang berkembang dimasyarakat pemangkat.


Sumber Java Courant Tanggal 25 September
https://paperspast.natlib.govt.nz/newspapers/WI18510312.2.15